Implementasi Program Pembangunan
Karakter Peserta didik Kelas XII SMA di Bandung
(Studi Deskriptif di SMA Santa Maria 1 dan 2 Yayasan
Salib Suci Bandung)
Raimondus Angwarmase, Achmad Sanusi, Maman Suryaman
Universitas Islam Nusantara Bandung
Abstract
Keywords: Implementation, Character Building, High School Students
This study aims to find out the
Implementation of Character Building of Class XII High School Students in Bandung
by considering aspects of system, educators and school environment based on the
elements of efficiency, productivity, effectiveness, relevance and appreciation
of the character formation program of learners. The type of this research is
qualitative descriptive research. Discussion on the implementation of character
development of learners there are four main points resulting from cultural
habits (culture) schools, namely: (1) cultural insight quality education
(quality) for learners in academic and non academic activities; (2) religious
culture includes: morning prayer before and after lesson, liturgy (Mass
together) once a month, spiritual assessment according to the religion of each
student; (3) a culture of discipline, both for educators (teachers) and
learners; and (4) a culture of behavior (tatakrama), respect for parents and
caring for the young, promoting religious values, honesty, tolerance,
discipline and responsibility in the form of routine activities (teacher picket
tasks, student pickets, flag ceremonies, ), spontaneous activity (advise,
admonish and assist incidental activities), exemplary, and conditioning
(environmental hygiene, school cleanliness, class cleanliness, etc.). Obstacles
in the implementation of character education is still limited to some teachers'
knowledge of character education, heterogeneous learners make it difficult for
schools to determine the values of characters that must be developed. The
conclusions and suggestions put forward by the authors include: (1) For
principals, teachers at Santa Maria 1 and Santa Maria 2 High Schools of
Bandung, in particular, generally high school in Bandung, must apply character
education into syllabi, RPP, and methods, media and evaluation techniques used
in teaching and learning activities. (2) For schools, instill character to
learners while outside the classroom should be done more intensively, through
reprimands / sanctions to learners who violate the rules and through the
development of new programs to shape the character of learners, including
ongoing supervision.
1.
PENDAHULUAN
Isu kelunturan pendidikan karakter, degradasi pembelajaran
nilai-nilai kehidupan (moral), mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan,
tolong menolong, dan kasih sayang, terlindas dengan sikap penyelewengan, penyim-pangan,
tipu-tipu, saling merugi-kan, menjegal, dsb. Perubahan
zaman dan perkembangan teknologi yang canggih pun turut mempengaruhi perubahan
perilaku anak-anak (peserta didik), berdampak pada moral yang rendah, cara
pandang dan cara hidup serba praktis, serba cepat, memenuhi keinginan,
kebebasan, demokriatis berujung pada
penyataan : “yang penting tujuan tercapai”. Contoh konkrit perubahan karakter yang nyata, anak-anak jaman
dulu beda dengan anak-anak jaman sekarang. Anak jaman dulu menghormati
orangtua, sedangkan anak jaman sekarang sudah berkurang rasa hormat terhadap
orangtua. Waktu ulangan atau ujian, suka menyon-tek, dan masih banyak lagi
perubahan sikap, perilaku yang dinampakkan.
Kualitas pendidikan sering menjadi perbincangan ditengah
masyatakat. Sampai kapan pendidikan Indonesia berkualitas? Sudah berapa nilai
rupiah digelontorkan untuk pendidikan kita? Apa yang salah dengan pendidikan
kita? Kualitas pendidikan yang bagaimana harapan masyarakat di jaman millennial ini? Apakah cukup dengan bisa
membaca, menulis dan menghitung (calistung)? Lebih ekstrim lagi jika muncul pertanyaan,
sampai generasi keberapa, bangsa Indonesia dapat menemukan jati diri yang
sejati dan pendidikan yang berkualitas?
Berkaca dari fenomena-fenomena saat ini, tidak lepas dari
sistem pendidikan yang masih carut marut. Tidak bisa dipungkiri perilaku,
karakter masyarakat masih tergolong “feodal”. Sikap dan perilaku menurut penulis,
masih dipengaruhi karakter, sikap dan perilaku “penjajah” yang telah tertanam
selama kurang lebih 360 tahun lalu, jika disandingkan dengan sikap dan perilaku
bangsa yang lebih kurang hanya 20% bebas dari penjajahan, walapun ukuran psikologis,
kehidupan bangsa diibaratkan dengan kehidupan manusia, diusia 73 tahun
sejatinya telah menjadi dewasa dan panutan hidup.
Ironis, memang, tetapi inilah fakta pendidikan yang ada; maka tak jemu-jemu, Sanusi dalam berbagai
kesempatan menekankan pentingnya enam sistem nilai: (teologis, fisiologis,
etika, estetika, logis dan teleologis) dilandasi “believing skill dan operational
skill”, sebagai acuan hidup bermasyarakat di abad 21 ini. Penekananya pada bileving skill dan operational skill,
dimaknai penulis dalam nuansa religi “iman” dan “perbutan” harus seimbang. Jika
sesorang punya “iman” tapi tidak dipraktekan/dioperasikan, tentu tidak berguna,
begitupun sebaliknya.
Perubahan
tidak semata dirasakan satuan pendidikan, namun secara universal. Apa yang
tadinya teratur menjadi rumit (complex)
dan semrawut (chaos), akibat etos
biro-kratisasi menawarkan keseragaman, formalisme dan keteraturan serta
perubahan melalui kebijakan, bertemu dengan etos demokrasi dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sering menjadi sumber masalah baru, bukan
menjadi instrumen perubahan dan solusi masalah.
Kerumitan dan kesemrawutan yang
dirasakan, lanjut Sanusi, diperlukan keterampilan untuk bisa melakukan surfing on chaos, yaitu believing skills dan oerational skills. Dengan
demikian, menjadi lebih utuh apa yang dilakukan manusia, karena ada unsur
keimanan, keyakinan atau kepercayaan sekaligus ada keterampilan melakukan dan
kepemimpinan dalam keterampilan manajerial.
Faktor utama membangun
karakter suatu bangsa menurut Sanusi, adalah pendidikan, yang merupakan :
usaha sadar dan terencana, mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan diperlukan individu, masyarakat,
bangsa dan negara, dengan membiasakan sifat-sifat: Honesty (jujur), Citizenship
(berkewarganegaraan), Courage
(berani), Fairness (keadilan), Respect (menghargai), Responsibility (tanggungjawab), Perseverance (tekun), Caring (peduli), dan Self-Discipline (disiplin diri). (Sanusi A, 2016 : 206).
Kajian tentang karakter mengisyaratkan adanya nilai-nilai
karakter yang perlu diaplikasikan dalam kehidupan setiap individu maupun
kelompok, diantaranya : nilai perilaku
manusia berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (religius), berhubungan dengan
diri sendiri, dengan sesama, dan dengan lingkungan, yang melekat pada diri
manusia, dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari menampilkan pola perilaku
berbeda secara fisik dan psikis, harapan-tujuan dan kepentingan, serta situasi
dan kondisi lingkungan, merujuk pada unsur-unsur, tujuan jenis tingkat
keperluan dan kebutuhan hidup,
intensitas sikap dan tata cara penampilan, serta reaksi setiap individu maupun
kelompok.
Nilai-nilai karakter dalam penerapannya, tidak terlepas
dari pola dan variasi, yang dijadikan setiap orang/kelompok dalam bertindak
tergantung pada tingkat kekuatan dan kesungguhannya, sehingga, menurut Sanusi,
perikehidupan manusia terpolarisasi menjadi 5 (lima) pola utama, yaitu “(1) Manners : tatacara tindak-tanduk atau gaya, (2) Behavior : gaya perilaku atau lagak, (3)
Character : pola karakter, (4) Personality : pola kepribadian, dan (5) Individuality : pola keakuan”.(Sanusi,
2014 : 79), sebagaimana visualisasi pada gambar
1 berikut :
|
Gambar 1. Lapisan Perilaku Sumber
: Sanusi A (2014 : 79)
|
|
1. Individuality
- Jati diri
2. Personality
- Kepribadian
3. Character
- Karakter
4. Behaviors
- Lagak
5. Manners
- Gaya
|
Gambar tersebut, menjelaskan bahwa
tatacara/tindak-tanduk, perilaku, karakter, kepribadian dan keakuan seseorang, sekelompok,
masyarakat, satu oragnisasi dan satu bangsa sekalipun, pada hakekatnya
bersumber dari sistem nilai yang dihayati, dibudayakan dan diperjuangkan, berlandaskan
3 (tiga) nilai mendasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu : (1) nilai agama : melekat pada hubungan
pribadi manusia dengan Tuhan (hubung-an
vertikal), (2) nilai sosial : mengedepankan hubungan pribadi seseorang
dengan orang lain (hubungan
horizontal), (3) nilai hukum : terletak
pada hubungan pribadi setiap individu terhadap hukum yang berlaku. Diharapkan akan berdampak
pada sikap, dan perilaku serta tindakan bernilai dan menjadi karakter, bukan
lagi sekedar berpura-pura, ikut-ikutan untuk bisa dilihat orang lain.
Semuanya berpulang pada pribadi
masing-masing, menginventarisir segala tindakan, perbuatan yang dilakukan
setiap hari. Mungkin saja semua tindakan bernilai, ataukah hanya sebatas “ada maunya”,
sebagai strategi atau siasat yang dilakukan untuk memper-oleh perhatian dari
pihak lain. Degan demikian,
menjdi hal wajib bagi manusia yang beriman, baik itu Islam maupun Katolik dengan uangkapan religi : “Abluminanas dan ablumin Allah”, dan “Cintailah
Allahmu dengan segenap akalbudimu dan cintailah sesama seperti mencintai dirimu
sendiri”.
Implementasi pembangunan karakter tidak lepas dari watak, sifat, moral dan akhlak
setiap individu maupun kelompok bersumber padat tiga aspek dasar proses
pembangunan karakter yaitu sistem, pendidik,
dan lingkungan, berlandaskan empat
pilar karakter bangsa : Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinaka Tunggal Ika,
akan menjadi efektif dan
berhasil, jika dibarengi dengan
keterampilan yang diasah dalam praksis pendidikan merujuk pada keterampilan,
kognitif, afektif, psikomor (Taksonomi Bloom), disempurnakan Sanusi dengan
menambah keterampilan believing skill
dan operational/managerial skill,
menjadi lebih utuh apa yang dilakukan manusia, jika dilandasi enam system nilai
: Ketuhanan (teologis), fisik, etika, estatika, logika dan kegunaan (teleologis).
Kemampuan
kognitif, afektif, psikomotor, keyakinan (believing)
dan pelaksanaan (operasional), menurut
Sanusi, lebih dimaknai sebagai upaya untuk :
(a) membuka minat, potensi diri, dan rasa
ingin tahu, (b) melandasi kemampuan nalar kritis, kretif, dan inovatif, (c)
membentuk kepribadian dan karakter (termasuk akhlak mulia dan perilaku didalamnya),
(d) mengotimalkan pertumbuhan psikomotorik, kelincahan, kecekatan, trengginas
(kebugaran tubuh, keterampilan fisik), (e) menyadarkan dan memahami identitas
dan posisi diri peserta didik dalam lingkungan sosio-kulturalnya. Sanusi, 2016
: 206).
Proses belajar dan berpikir setiap
individu, atau kelompok memaknai sungguh-sungguh masing-masing nilai, tingkat
keterampilan dengan mendalami bagimana permasa-lahan yang terjadi dalam upaya
menata kehidupan sosial yang kian semakin rumit
dan semwarut, tidak mudah, jika tidak ada kesungguhan
untuk berubah dan memperbaikinya. Dalam konteks ini, menurut penulis, nilai
yang paling utama adalah nilai “teologis”, dan “teleologis”, identik dengan “iman”
dan “perbuatan”, dimana setiap individu, kelompok maupun masyarakat meyakini sesuatu
yang benar, akan bermanafaat jika dilaksanakan/ diwujudkan, sehingga pendidikan
disini sungguh-sungguh bernilai.
Kajian
tingkat keterampilan dan sistem nilai, dalam pendidikan, semisal, dalam
mengkaji nilai “Keesaan Allah”: Tahuid, menurut konsep aqidah Islam tentang keesaan Allah, yakni :
Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal
penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal
ini adalah firman Allah: Ø£َلاَÙ„َÙ‡ُ الْØ®َÙ„ْÙ‚ُ ÙˆَاْلأَÙ…ْرُ
تَبَارَÙƒَ اللهُ رَبُّ الْعَالَÙ…ِينَ “Ingatlah,
menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54). Tauhid uluhiyah atau
tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya
kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk
(hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya
hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:
ذَÙ„ِÙƒَ بِØ£َÙ†َّ اللهَ Ù‡ُÙˆَ الْØَÙ‚ُّ ÙˆَØ£َÙ†َّ Ù…َايَدْعُونَ Ù…ِÙ† دُونِÙ‡ِ الْبَاطِÙ„ُ ”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah,
Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah
batil” (Luqman: 30). Tauhid asma’ wa shifat.
Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan
nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal
yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan
sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya
atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah
dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh
melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif.
Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: Ù„َÙŠْسَ ÙƒَÙ…ِØ«ْÙ„ِÙ‡ِ Ø´َÙŠْØ¡ٌ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ السَّÙ…ِيعُ البَصِيرُ ”Tidak ada sesuatupun yang serupa
dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura:
11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid I/7-10).
diajarkan
untuk setiap jenjang dan jalur pendidikan dengan tingkat pembelajaran yang
berbeda. Jika dikaitkan dengan enam, sistem nilai, misalnya untuk tingkatan
tahu, apa saja yang diketahui tentng nilai teologik, nilai fisik-fisioligik,
nilai etik/ hukum, nilai estetik, nilai logik/rasional, dan nilai
teleologik/manfaat atau guna, yang pada akhirnya akan ada kemampuan mengeloa
dan memimpin untuk menjalankannya. Persoalannya, apakah hanya sebatas tahu
saja, atau mau lebih tahu atau mau tahu secara mendalam dan diyakini serta
dijalankannya?
Berbagai masalah yang melatarbelakangi pembangunan karakter dengan
prinsip dan sudut pandangnya masing-masing sebagaimana telah diuraikan,
meyakinkan penulis untuk meneliti tentang karakter peserta didik satuan pendidikan
menengah atas (SMA) di kota Bandung berkaitan dengan masalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembinaan siswa melalui manajemen kelas, dengan judul : “Implementasi
Program Pembangunan Karakter Peserta didik Kelas XII SMA di Bandung”. (Studi
Deskriptif di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Yayasan Salib Suci
Bandung), sebagaimana visualisasi dalam gambar 3 berikut :
|
Gambar
3 Pembatasan Masalah
|
|
INSTRUMENTAL INPUT
•
Nilai-Nilai Hidup
•
Program
•
Implementasi
|
|
RAW INPUT
Siswa :
• Kapasitas (IQ)
• Bakat Khusus
• Motovasi
• Minat
• Kematangan/Kesiapan
• Sikap/Kebiasaan Dll.
|
|
OUTPUT
•
Sikap
•
Perilaku
•
Penge-
tahuan
|
|
PROSES PEMBINAAN KARAKTER SISWA
•
Manajemen Kelas
•
Plan
•
Do
•
See
-
|
|
ENVIRONMENTAL INPUT
• Keluarga
• Lingkungan/Masyarakat
• Stakeholder
|
|
OUTCOME
• Sumbangan
terhadap Lingkungan
|
|
IMPACT
• Tatanan Hidup
Masyarakat
|
Program Pembangunan Karakter (character
building Program) telah dicanangkan pemerintah dengan berbagai kebijakan,
program, peraturan dan strategi diantaranya Gerakan Nasional Pembangunan
Karakter, Program Nawacita, Program Penguatan Pendidikan Karakter, namun belum
maksimal. Untuk hal itu, penelitian ini dimaksudkan
untuk memperoleh gambaran tentang : (a) Raw input peserta
didik melalui Manajemen Kelas, mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter
di sekolah, (b) Proses pembelajaran peserta didik melalui Manajemen Kelas untuk
mendorong peserta didik memahami : (1)
masukan dasar (peserta didik, data, fakta, informasi,
permasalahan, tugas, cita-cita, dan komitmen); (2) masukan instrumental
berupa (SDM, infrastruktur, dana, sarana, prasarana, cara kerja, dan media); (3) masukan lingkungan trigatra (geografik,
demografik, dan kultural); serta dan (4)
lingkungan pancagatra (politik,
ekonomi, sosial, pertahanan dan keamanan, serta agama), hakikat, tujuan dan manfaaf membangun karakter, (c) Model (relevansi) pembelajaran berkarakter
yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan kehidupan
nyata peserta didik setiap hari melalui Manajemen Kelas.
2. METODE
PENELITIAN
Metode Penelitian yang dugnakan adalah metode deskriptif
kualitatif, untuk mendeskripsikan atau menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun
rekayasa manusia dengan
pendekatan kualitatif, dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami subjek penelitian, menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Hal ini menurut,
Bogdan dan Taylor, berarti bahwa, data atau informasi yang terkumpul dari hasil
penelitian, diolah dan dianalsis dengan uraian deskriptif. (Bogdan dan Taylor,
1975 dalam Moleong, 2007: 4-6 dan Bogdan dan Taylor, 1975:5 dalam Moleong,
2011:4)
Pendekatan yang digunakan peneliti dalam
penelitian ini, adalah kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam dan menggambarkan keadaan atau suatu fenomena yang terjadi, gejala-gejala, informasi-informasi atau
keterangan-keterangan dari hasil pengamat-an selama proses penelitian tentang
Implementasi Program Pembangunan Karakter peserta didik SMA Kelas XII di Kota
Bandung, menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari sumber
data di SMA
Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 di Bandung; sejalan dengan pendapat Sukmadinata,
yang
menyatakan bahwa : “Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian untuk
mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,
kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok”.
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian
ini seperti catatan lapangan, percakap-an, foto, rekaman wawancara, dan
berbagai dokumen atau arsip yang terdapat di lapangan, akan disilang-silangkan
menggunakan teknik triangulasi (gabungan antara teknik studi pustaka, catatan
lapangan dan analisis dokumen, teknik wawancara dan teknik observasi). Hal ini
dilakukan agar data yang diperoleh, dapat dipercaya atau valid dan sesuai
dengan kebutuhan. (Moleong, 2011:157 ; Sugiyono, 2012:207).
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: (1) Peneliti menetapkan tempat penelitian, setelah melakukan
konsultasi dengan pembimbing tentang masalah yang akan diteliti dan metode yang
digunakan, sesuai dengan
masalah yang akan diteliti, (2) Mengidentifikasi subjek penelitian yang terdiri
dari Kepala sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru dan Peserta didik
di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2
Bandung, (3) melakukan observasi, pendataan, pencatatan, dan hubungan
dengan responden, (4) Pendataan dan pencatatan
dilakukan dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi sesuai dengan
masalah yang diteliti, (5) Menganailisis data yang telah ditetapkan.
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta
dokumentasi; sebab bagi peneliti, kualitatif fenomena, dapat di mengerti
maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara
dan observasi, dimana fenomena tersebut terjadi. Untuk melengkapi data
diperlukan dokumentasi dan menjadikan hasil
penelitan lebih valid dan dan kredibel, peneliti menggunakan
teknik triangulasi, yaitu tekhnik pengumpulan data bersifat
pengganbungan tekhnik observasi, wawancara, dokumentasi, dan
sumber data yang telah ada.
Analisis dalam penelitian ini, cenderung
dilakukan secara induktif serta secara makna, merupakan hal yang esensial, menggunakan
penelitian deskriptif dengan analisis evaluasi (berkenaan dengan kesesuaian
tujuan dan kenyataan yang dicapai), analisis konteks (stategi penanaman nilai),
analisis input (obyek pelaksanaan
internalisasi karakter), analisa proses
(bagimana strategi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar) dan analisa produk (implikasi hasil yang dicapai
peserta didik), dan untuk
mempelajari secara intensif latar belakang masalah, keadaan dan posisi suatu
peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, juga interaksi lingkungan unit
sosial tertentu bersifat apa adanya (given). Subjek
penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat.
Data dalam penelitian ini, akan dianalisis
secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai datanya sudah
jenuh. Aktivitas dalam analisis data mengikuti flow model yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman, yaitu data reduction, data display dan conclusion
drawing/verification. (Miles dan Huberman, 1984 : 21; Miles dan Huber-man
dalam Sugiyono, 2011 : 337).
Langkah-langkah analisis data dapat
digambarkan dalam bagan 1. sebagai berikut:
|
Karakter Peserta
didik
|
|
Bagan
1 Komponen dalam analisis data (flow model)
Sumber
: Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011: 337)
|
|
Reduksi
data :
Kurikulum, Visi Misi, Tujuan , Strategi,
dan Program Sekolah
|
|
Selama
|
|
Analisis
:
•
Plan
•
Do,
•
Evaluation
|
|
Periode pengumpulan data
|
|
Antisipasi
|
|
Selama
|
|
Selama
|
|
Setelah
|
|
Display data : Penilaian Karakter
|
|
Kesimpulan/verifikasi : Karater
|
|
Setelah
|
|
Setelah
|
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakter merupakan watak atau pun ciri khas
yang melekat pada diri seseorang, tercermin dalam perbuatan/tingkah laku, yang
menampakkan nilai-nilai tertentu. Karakter dapat terbentuk oleh
pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan seseorang melalui berbagai kegiatan dalam
suatu lingkungan tertentu yang saling berkesinambungan satu sama lain.
SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2
Bandung merupakan sekolah dengan pengembangan kegiatan yang multi dimensi.
Berbagai faktor dalam kegiatan pembelajaran formal, non-formal maupun informal
sangat berpengaruh guna mengembangkan dan membentuk kepribadian peserta didik
yang utuh baik secara intelektualitas, humanitas, religiositas maupun keterampilannya.
Hasil pengamatan,
wawancara, dan studi dokumentasi sebagaimana telah dikemuka-kan sebelumnya,
peneliti menemukan beberapa hal terkait perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan
hambatan dalam implementasi program pembangunan karakter pada SMA Santa Maria 1
dan SMA Santa Mari 2 Bandung, diantaranya:
a. Perencanaan Pembanguan/Pendidikan Karakter.
SMA
Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2
Bandung, telah memiliki visi, misi dan tujuan sekolah yang sangat jelas,
sebagai landasan sekolah menyusun program-progam pembangunan pendidikan
karakter. Implementasi
Program Pembangunan Karakter Peserta didik, diwujudkan sesuai dengan visi dan misinya, sebagai
penjabaran visi Yayasan Salib Suci Bandung yaitu : “Pembentukan watak dan mental dibarengi dengan pencetakan
pemimpin-pemimpin” sebagaimana pengembangan kegiatan yang ada, seperti kegiatan
Wawasan Kebangsaan, Rekoleksi, Retret, Bina Iman Anak Remaja (BIAR), dan lain
sebagainya, berpatokan pada nilai-nilai karakter bangsa dan membingkai beberapa nilai
pokok untuk dijadikan karakter intitusi sebagaimana diuraikan dalam 18 (delapan
belas) nilai pendidikan karakter, yaitu religus, jujur, toleransi, disiplin, kerja
keras, kretif, mandiri, demokrtis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta
tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingmungan, peduli sosial dan tanggungjawab.
Perencanaan pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam semua
mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, sehingga dalam RPP, pendidik mengemukakan
nilai-nilai karakter yang hendak dicapai selama proses pembel-ajaran diantaranya
: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,
demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung jawab, dan merumuskan langkah-langkah yang sesuai agar
tercipta suasana belajar yang mendorong berkembangnya karakter siswa sebagaimana
yang diharapkan.
b. Pelaksanaan Pembanguan/Pendidikan Karakter.
Pengembangan pembelajaran yang dilaksanakan, kepala sekolah, pendidik
dan tenaga pendidik mengawali kegiatan belajar mengajar dengan berdoa bersama
di ruang guru, sementara peserta didik seluruh kelas berdoa secara bersamaan
dengan masuk kelas pada pukul 06.55 WIB, sehingga tepat pukul 07.00 WIB
pendidik telah berada dalam kelas memulai pelajaran. Berbagai kegiatan di luar pembelajaran,
pengembangan karakter religius dibangun pula melalui pengembangan kegiatan
pendampingan Bini Iman Anak Remaja (BIAR) yang menjadi program wajib bagi peserta
didik, adanya pengembangan kegiatan retret sebagai penyembuhan luka-luka batin
dan peneguhan identitas diri yang dilaksanakan pada awal masuk sekolah. Ada
pula kegiatan rekoleksi yang dilaksanakan setelah mid semester (sekarang
Penilaian Tengah Semester), setelah tes akhir sekolah guna melakukan kegiatan
refleksi baik dalam membangun sikap dasar hidup bersama, rekoleksi yang
berkaitan dengan kesehatan mental, narkotika, seksualitas dan masih banyak
lagi.
Pengembangan nilai nasionalisme, tidak hanya dipupuk dengan adanya
kegiatan upacara bendera pada hari senin dan hari-hari besar yang diperingati
saja namun dipupuk juga melalui kegiatan Wawasan Kebangsaan (WK). Penekannya
pada semboyan Mgr. Sugiyopranata yaitu : 100% katolik 100 % nasionalis,
sehingga peserta didik diajarkan menjadi anak-anak yang mempunyai kepedulian
terhadap bangsanya serta memiliki sikap dan rasa nasionalis, juga membangun
minat dan semangat peserta didik agar mampu menjadi warga negara yang baik,
kritis, memiliki sikap kesederhanaan, kepedulian serta mampu menempatkan diri
di masyarakat. Nilai-nilai keutamaan yang sesungguhnya ingin diwujudkan melalui
kegiatan Wawasan Kebangsaan ialah menggugah peserta didik dalam suatu
kesederhanaan, menunjukan kepedulian sosial di masyarakat bawah (masyarakat
kecil) serta pengenalan profesi guna menumbuhkan minat peserta didik di masa
depan yang dirancang dalam berbagai tingkatan.
Pelaksanaan pendidikan karakter
terintegrasi pada program dan kurikulum yang telah disusun oleh kepala sekolah
bersama dewan guru pada rapat awal tahun
pelajaran, sekolah mengembangkan kultur atau budaya sekolah yang kondusif,
sehingga siswa dapat melatih, membiasakan bahkan membudayakan nilai-nilai
karakter sebagaimana telah ditetapkan, seperti kebiasaan memberikan salam,
berpakaian rapih, memiliki potongan atau model rambut yang sama, santun dalam
berbicara, disiplin, berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengembangan diri
(Bimbingan dan Konseling dan ekstrakurikuler), teladan positif satu dengan yang
lain, dan konsistensi dalam penanganan masalah siswa.
c. Penilaian
Pendidikan Karakter
Penilaian adalah kegiatan untuk
mengukur tingkat keberhasilan dari program-program yang telah dilaksanakan.
Apakah telah terlaksana sesuai dengan rencana atau tidak? Jika tidak, apakah
faktor-faktor penghambatnya serta usaha apa yang perlu dilakukan untuk
mengatasinya?
Dari hasil observasi, wawancara dan
studi dokumentasi yang dilakukan, terungkap bentuk penilaian pendidikan
karakter serta faktor pendorong dan penghambatnya sebagai berikut: (1) Penilaian pendidikan karakter
secara formal berlangsung pada saat rapat rutin bulanan, triwulan, semesteran,
dan tahunan. (2) Penilaian
pendidikan karakter dirangkai-kan dengan penilaian terhadap segenap program
yang telah dilaksanakan dan evaluasi belajar peserta didik dari setiap guru mata
pelajaran dan dilakukan bersama orangtua dalam pertemuan penerimaan hasil
belajar siswa, (3) Penilaian
pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran memiliki
format tersendiri. Format evaluasi meliputi dimensi Koginitif, Psikomotorik dan
Afektif (KPA) ditambah format evaluasi penilaian karakter berdasarkan ke-18
nilai karakter bangsa, (4) Peserta
didik yang menunjukkan karakter yang baik selama pembelajaran berlangsung
mendapatkan tambah-an nilai afektif yang nantinya diakumulasikan dengan nilai
semester. Sedangkan, siswa yang berperilaku tidak sesuai mendapatkan pembinaan
lang-sung oleh guru mata pelajaran, berupa teguran sekaligus motivasi dan bisa
mem-pengaruhi nilai afektifnya.
Berdasarkan hasil penilaian
pendidikan karakter yang dibuat oleh pimpinan sekolah dan dewan guru, didapati
faktor-faktor pendukung sebagai berikut: (a) Kualitas input siswa yang sejak awal telah disaring melalui tes akademik,
psikotes dan wawancara, ( b) Peserta didik yang diterima di SMA Santa Maria 1
dan SMA Santa Maria 2 adalah mereka yang memiliki kemampuan akademik di atas
rata-rata, memiliki motivasi dan daya juang yang kuat, dan memiliki kepribadian
yang unggul, (c) Sarana prasarana pendukung proses belajar mengajar memenuhi
standar dan representatif, seperti ruang kelas, laboratorium, Biologi, Fisika,
Kimia dan Komputer, kantin yang bersih, aula, dsb.
Beberapa faktor penghambat yang
dikemukakan oleh pimpinan sekolah, guru bahkan peserta didik sendiri,
diantaranya : (a) Belum semua pendidik (guru) menunjukkan kese-riusan atau
komitmen menjadi panutan atau teladan dalam karakter. Masih ada pendidik yang
datang terlambat ke sekolah, terlambat mengajar di kelas, tidak memberi salam
atau menunjukkan sikap yang menghargai orang lain. (b) Beberapa peserta didik
masih berperilaku menyimpang atau melanggar aturan, padahal setiap hari diingatkan
dalam pembinaan apel pagi, (c) Masih ada orangtua yang belum menunjukkan niat
untuk bisa bekerjasama dengan sekolah dalam menangani persoalan disiplin
anaknya, (d) Belum adanya persamaan persepsi tentang pentingnya menjaga
kerahasiaan pembinaan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa. (e) Dari pihak
siswa faktor penghambat yang dilihat adalah tingginya tingkat senioritas. Adik
kelas sering merasa kurang nyaman dengan sikap dan perilaku kakak kelas
terhadap mereka. Terutama dalam kaitan dengan tata tertib dan tata krama.
Contohnya, senior akan marah kalau junior tidak memberi salam.
Hambatan-hambatan yang terjadi bersumber dari: personal internal, personal
eksternal, non personal internal
dan non personal eksternal. Hambatan
yang paling kuat pada aspek personal
internal yaitu: lemahnya kompetensi spiritual karakter pendidik dan tenaga
kependidikan, non personal internalnya
: keterbatasan ketersediaan dana operasio-nal sekolah, hambatan kuat pada aspek
personal eksternal : lemahnya
dukungan tokoh masyarakat dan orang tua siswa dan hambatan terkuat aspek non personal eksternal : belum adanya kebijakan teknis implementasi
program pembangunan karakter di sekolah.
Beberapa komponen dalam model
manajemen sekolah berbasis karakter terdiri dari komponen input, proses, output dan outcome serta tujuan (goal). Oleh karena
itu, keberhasilan proses pembangunan karakter disekolah akan ditentukan oleh :
(1) efisiensi input sehingga memberikan
dukungan berarti pada kelancaran proses,
(2) efektivitas proses sehingga
menghailkan hasil yang diharapkan, (3) produktivitas
proses dan hasil, sehingga memberikan dampak positif, bermutu dan memiliki
keunggulan seperti yang diharapkan, serta (4) adanya relevansi antara hasil dan dampak dengan tujuan pendidikan
nasional.
Hasil pengamatan peneliti sendiri menunjukkan adanya hambatan yang
paling berpengaruh dalam proses pembanguan karakter adalah “pengawasan”
terfokus pada waktu jedah (spare waktu antara pulang sekloah ke rumah). Jika
keadaan ini tidak adannya pengawasan, maka tidak mustahil proses pembangunan
karakter sepanjang di sekolah akan sia-sia, ditambah lagi jika di rumah hanya
bertemu dengan PRT (pembantu rumah tangga).
4. SIMPULAN
dan REKOMENDASI
A. SIMPULAN
Implementasi program pembangunan karakter
merupakan salah satu strategi pendekatan yang sangat baik dalam upaya
ketercapaian tujuan pendidikan nasional secara filosofi. Manajemen pendidikan
berbasis karakter, merupakan kewajiban dan hakekat yang seharunya terkondisikan
sebagaimana filosofi dan tujuan pendidikan nasional yakni pembentukan peserta
didik berwatak dan berakhlak.
Berdasarkan uraian tersebut dan hasil
pengamatan, wawancara selama penelitian,
beberapa kesimpulan yang didapat pada hasil penelitian Implementasi
Program Pembangunan Karakter di SMA
Santa Maria 1 dan 2 Bandung, adalah sebagai berikut :
1)
Implementasi Program Pembangunan Karakter di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa
Maria 2 Bandung, telah terintegrasi dalam rencana program kerja yang
dikembangkan dari visi, misi masing-masing sekolah diantaranya kegiatan
intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler,
2)
Peran kepala sekolah, guru dan karyawan dalam pembinaan karakter siswa di SMA
Santa Maria 1 dan 2 Bandung yaitu guru berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
pada jawadal kegiatan intra dan ekstrakurikluer diantaranya : kegiatan religi
yang telah menjadi kegiatan rutin : perayaan ekaristi sebulan sekali, pada awal
tahun ajaran dan akhir tahun ajaran, perayaan hari besar keagamaan, doa pagi
bersama sebelum masuk kelas dan giliran guru memimpin doa bersama, di
lingkungan sekolah. Sebelum mulai belajar,
3)
Kultur sekolah di SMA Santa Maria 1 dan 2 Bandung yaitu disiplin, menjaga kebersihan di sekolah,
dalam hal ini membiasakan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan
masing-masing di depan kelas, dan selalu
menjalin silaturahmi warga sekolah serta membiasakan menaati tata tertib
sekolah,
4)
Secara konsep (teori), berdasarkan hasil observasi, implementasi program
pembangunan karakter di SMA Santa Maria 1 dan SMA Santa Maria 2 Bandung sesuai
dengan perencanaan yang telah disepakati bersama dan dituangkan dalam program
tahunan kerja sekolah. Namun, masih menyisahkan PR yang perlu diperhatikan,
yaitu dalam hal pengawasan, yang mana sikap dan perilaku peserta didik
sejatinya hanya terbatas pada ruang lingkup sekolah dari jam 06.55 WIB sampai jam17.00 WIB.
Selanjutnya, menjadi tanggungjawab lingkungan dan orangtua.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa,
perlu adanya koordinasi dan kerjasama antar lingkungan keluarga, dan
masyarakat, sehingga pembangunan karakter yang telah dibangun di sekolah
betul-betul menjadi efektif dan berdam-pak positif dalam perubahan sikap dan
perilaku peserta didik secara permanen bukan temporary (hanya disekolah saja)
B. REKOMENDASI
Berdasarkan hasil kesimpulan yang dihasilkan
dari penilitian ini, maka dikemukakan rekomendasi sebagai berikut:
1) Hubungan
sosial yang sudah dibangun dengan baik antara kepala sekolah, pendidik, tenaga
kependidikan, karyawan dan stakeholder lainnya,
terus ditingkatkan,
2) Dalam
usaha pengembangan pendidikan karakter peserta didik, peran warga sekolah dan
kepala sekolah lebih dipertegas dengan cara memberikan motivasi kepada pendidik
seperti dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dan
mengikut-kan ekstrakurikuler, sehingga pendidik mampu memberikan layanan yang
maksimal kepada peserta didik yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu produk
yang ada di sekolah,
3) Seluruh
warga sekolah, setiap saat mengontrol peserta didik dilingkungan sekolah dan
pendidik berniat baik untuk membina karakter peserta didik seperti guru
mengurus anaknya sendiri, serta meningkatkan koordinasi dengan lingkungan masyarakat
setempat dan keluarga,
4) Pihak
sekolah membentuk tim pengembangan pendidikan karakter dan life skllis yang secara khusus mengadakan perencanaan, penyusunan
program kerja dan setelah itu memantau, mengevaluasi program tersebut. Dengan
demikian program pendidikan karakter dapat memberikan manfaat secara langsung
yang dapat dirasakan siswa lebih efektif dan terarah,
5) Implementasi
pendidikan karakter sangat tergantung pada visi dan misi sekolah, maka
diharapkan kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan dan karyawan serius
dalam menjalankannya, dan kalau perlu kepala sekolah mengevaluasi setiap dua
minggu sekali,
6) Pembiasaan-pembiasaan
pembelajaran pendidikan karakter peserta didik belum maksimal dilaksanakan oleh
pendidik, maka penting bagi pendidik mengoptimalkan dan memberikan contoh
sebagai pendidik karakter,
7) Melihat
kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program pendidikan karakter dan
mengidentifikasi masalah yang ada selanjutnya mencari solusi yang komprehensif
agar program pendidikan karakter dapat tercapai,
8) Meningkatkan
peran pendidik masing-masing bidang studi mensukseskan program pendidikan
karakter, dan
9)
Program Pembangunan karakter disekolah akan ekfektif dan bertahan lama, jika stakeholder pendidkan (dalam hal ini
yayasan dan dinas pendikan), memberikan peluang bagi sekolah untuk mendesain
alakasi waktu yang pembagiannya mengutamakan pembinaan karakter. Sebagai contoh
: 10 menit awal dan 10 menit akhir dari mata pelajaran Agama ( 1 x pertemuan =
4 jam x 45 menit) diberikan materi pembinaan karakter, jadi tidak samata
mengejar target pencapaian materi pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Creswell, J.W.
(1998). Qualitative inquiry and
research design: Choosing among five traditions. Thousand Oaks: Sage
Publication.
Creswell, John.W.
(2014). Reseach Design, Pendekatan Metode
Kualititatrif, Kuantitiaf, dan Campuran (14th edition), SAGE
Publication, Inc., Edisi dalam bahasa Indonesia (2016), Yogyakarta : Penerbit
Pustaka Pelajar.
Culberston. (1982).
Character Education: Teaching Values for
Life. Chicago: Science Research Associates Inc
Farida, A. (2016). Pilar-pilar Pembangunan Karakter remaja :
Metode Pembelajaran Aplikasi untuk Guru Sekolah Menengah. Bandung : Nuansa
Cendekia.
Kennedth,
J.Blacwell. (2003) Build Character.
The Ohio Center For Civic Education.
Kettner. M. P, Moroney M.R, Martin.L.L, (1990). Designing and Managing Programs : An
Effectiveness-Based Approach. Newbury Park California : SAGE Publications,
Inc.
Koesoema, Doni A.
(2012). Karakter Pendidikan Utuh dan
Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius.
Lickona, T. (2013) Educating for character: Mendidik untuk
Membentuk Karakter. Terj. Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Moleong, Lexy J. (2010) Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset
Mulia, M.S. (2013).
Kakater Manusia Indonesia : Butir-butir
Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda. Bandung : Nuansa Cendika.
Mulyasa, E. (2015). Manajemen Pendidikan Karakter.
Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Nasuka, (2005), Teori Sistem : Sebagai Salah Satu Alternatif Pendekatn dalam Ilmu-Ilmu Agama Islam. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Razik A. T, Swanson
D.A, (1995). Fundamental Concepts of
Educational Leadership and Management. United States of America :
Pretince-Hall.Inc.
Sanusi, A. (2015). Sistem
Nilai, Alternatif Wajah-wajah Pendidikan. Bandung: Nuansa Cendikia
Sanusi, A. (2016).
Pendidikan Untuk Kearifan :
Mempertimbangkan kembali Sistem Nilai, Belajar, dan Kecerdasan. Bandung:
Nuansa Cendikia.
Sanusi, A. (2017). Manajemen Pendidikan : Mengurai benang
kusut, mencari jalan keluar. Bandung : Nuansa Cedekia.
Saryono. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif dalam
Bidang Kesehat-an. Yogyakarta: Nuhe Medika.
Sauri, S.(2010). Meretas Pendidikan Nilai. Bandung: CV. ARFINO RAYA
Sauri, S. (2010). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam.
Bandung : Rizqi Press.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharto, B. (2015).
Perbandingan Sistem Pendidikan.
Materi Kuliah PPs. Uninus.
Tafsir, A. (2007). Kembali Kepada Akhlak. Pikiran Rakyat (22 Oktober
2007).
Tatang M.A, (2010).
Pokok-pokok Teori Sistem., Jakarta: PT. Raya Grafindo Persada
Zainal, A. (2015) Pendidikan Karakter di Sekolah Membangun
Karakter dan Kepribadian Anak Bangsa. Bandung: Yrama Widya.
Tim Penyusun Kamus.
(2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Undang-Undang RI
Nomor 20. Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Depdiknas. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun
2005. Tentang Standar Nasional Pendidikan Nasional.
Dirjen Dikti Kemendiknas,
(2010). Kerangka Pendidikan Karakter
Tahun Anggaran 2010.
Comments
Post a Comment